Selasa, 11 Agustus 2009

Sisi Lain Dunia Kita.. Masih Ada..

by: Anisa Fitriani, Nida Hanifah Nasir
(the last from '99Alphabeta)


Mentari terus menyengat seluruh permukaan bumi, menerpa apapun yang bisa dijangkau dan tak pernah memilih-milih mana yang tak ingin ia sentuh. Saat itulah, tampak orang-orang yang berdesak-desakan, sebagian mengenyitkan dahi sambil memegang erat tas yang tersampir di bahu agar tak lepas. Tak sedikit pula yang seakan tak peduli dengan Jumat siang akhir Oktober yang panas ini, karena merasa tak sebanding dengan kesenangan yang akan mereka dapatkan.

Seorang laki-laki berbaju koko dengan sinar wajahnya yang tajam berdiri mematung memandangi sekitar tempat itu, sambil membaca pamphlet yang terbentang di depan gerbang hijau, “ASSALAAM ISLAMIC MODERN BOARDING SCHOOL”

Dua orang dari kerumunan itu terus melangkahkan kaki, keluar menjauhi gerbang sambil sesekali membetulkan letak jilbab yang tersentuh oleh gesekan angin siang ini.

Sementara itu, di bagian sisi lain dunia, seorang laki-laki termangu memandangi 3 buku yang ia pegang. Entahlah, tak jelas buku apa yang dibawanya (karena sang penulis cerita ini pun tak pernah tahu, sampai sekarang).

Wajah laki-laki itu murung, ditambah lagi dengan kaos hitam kusam yang ia kenakan. “Aku harus pergi kesana demi…“ Tanpa melanjutkan kalimatnya, laki-laki itu pun beranjak dengan tubuh jangkungnya. Dunia menatapnya.


Sementara…


“Kita jadi ke toko buku belakang sriwedari kan???”

“Ya iyalah, napa nggak??? Kita harus beli buku-buku UAN kaaan?? Matematika, Fisika, Kimia, bla bla bla…”

“Hahahaa.. ya apa ajalah yang penting lulus, wisuda, kuliah, kerja, trus …. “ ;)

Ya,, dalam rangka usaha untuk bisa lulus UAN, pergilah dua cewek itu ke tempat loakan buku di belakang Sriwedari. Seceria ibu-ibu yang sedang menata buku-buku dagangannya, dua cewek itu pun tampak asyik mengambil buku-buku yang mereka anggap penting. Tak peduli apakah halaman demi halaman nantinya akan terbaca atau tidak. ‘Hhehe… Yang penting beli duluuu’ batin mereka.

“Ibu’, buku fisika yang itu ya?”

“Sama kimia juga ya bu??” sahut cewek satunya.

“Apa lagi neng?”

“Yang itu, sama yang itu. Berapa semuanya?”

“250.000 di tambah 75.000 ditambah bla..bla..bla…..” (hhahaa.. sok banget J)


Salah satu dari cewek berjilbab itu tiba-tiba termangu, karena suatu hal yang di anggapnya sangat menusuk hati (sampai ke paru-paru, over!!!), ia pun berhenti membolak balik buku yang ada didepannya. Tiba- tiba…

“Mau ngapain mas?” Tanya ibu sang penjual buku pada seorang laki-laki jangkung berkaos hitam kusam yang berdiri tepat samping kedua cewek itu.

“Mmmmmm… mau…iniiii….” Kata laki-laki itu sambil mengulurkan plastik hitam yang tampaknya berisi beberapa buah buku.

“Saya mau jual buku ini.”


Ibu penjual melirik bungkusan plastik hitam itu.

Tiga detik kemudian, kepalanya menggeleng sebagai isyarat yang sudah bisa dimengerti oleh laki-laki itu. Menyadari gelengan kepala si ibu penjual, dua cewek berjilbab itu terhenyak. Bertubi-tubi muncul siluet sosok laki-laki berkaos hitam itu, berjalan menjauh dan berbelok di deretan toko-toko buku sebelahnya. Seakan memancarkan sinar Alpha, Beta, dan Gamma, (Nggak ada BOB J), pandangan kedua cewek itu menjadi abu-abu, lalu gelap. Seakan ada aliran listrik yang keluar dari hati yang paling dalam, tak bisa diukur dengan amperemeter ataupun logaritma (lhooooooooooooooooo… anak IPA gitu lhooh!!!).

Setelah membayar semua buku yang dibeli, entah ada medan magnet macam apa yang bisa menarik langkah mereka untuk mengikuti laki-laki itu. Muncullah sifat lembut seorang wanita dari hati kedua cewek itu. Mereka terus melangkah sampai tak sadar bahwa bola mata telah berkaca-kaca melihat betapa gigihnya perjuangan laki-laki itu. Tolakan ketidak pedulian, senyum sinis dari hampir sepuluh penjual bukupun ia dapatkan.

“Ayo kita beli bukunya, duitmu masih nggak?”

“Mepet sih tapi nggak apa-apalah. Ntar kita jalan kaki aja pulangnya”

“Busyeeett.. abis Isya’ baru nyampe neng..”

“Aku juga mepet, gimana?? ya udahlah nggak apa-apa, sekarang kita pura-pura butuh buku itu aja“


Setengah berlari, keduannya mendekat, mencari-cari kesempatan untuk sekedar bertanya pada laki-laki itu, lalu membelinya…

“Mmmm…buku kelas berapa mas?”

“Kelas 3 SMP mbak.” Jawab laki-laki berkaus hitam itu malu-malu.

“Ooooooooo…….”

“Cuman oooo doangg, cepetan beliii.” Bisik cewek satunya.


Bingung harus berkata apa untuk membelinya. Ya, naluri wanita mereka telah memproduksi hormon “iba” tersentuh oleh fakta kehidupan di sisi lain dunia mereka.

“ Mas, bukunya harganya bera…?”

Belum sempat mereka melanjutkan pertanyaan itu, laki-laki tersebut telah memberikan tas hitam itu pada bapak penjual buku.

“Yaaaaaaaaaaaaaahhh…!!!“ seru mereka dalam hati.

“40.000 ya pak?” Kata laki-laki berkaos hitam kepada bapak penjual buku itu.

“Waaah ya ndak bisa to mas. Walaupun bukumu bagus tapi kan udah pernah dipakai!!!”

“Kalau gitu 30.000 pak, saya lagi butuh uang.” Pinta laki-laki itu memalas.

Bapak penjual menggeleng. Terjadilah tawar menawar yang menurut kedua cewek itu rada kejam.


Akhirnya…


“15.000 kalau gak mau yo wis mas!!” gertak sang penjual.


Mungkin karena lelah dan berfikir dari pada tidak ada yang mau membeli, laki-laki itu merelakan bukunya dengan harga 15.000 Rupiah. Harga yang sangat rendah untuk goresan-goresan ilmu yang terjilid setebal itu. Tangan kedua cewek itu menggenggam lebih erat uang yang sudah mereka siapkan untuk membeli buku-buku dari laki-laki tadi. Mereka hanya terdiam, sambil terus menggamati gerak-gerik sang laki-laki berkaus hitam yang berpindah ke toko buku di sebelahnya. Mata laki-laki itu pun tiba-tiba berbinar, tetapi mata kedua cewek itu mulai buram karena memantulkan sinar larutan asam, mereka teringat buku-buku yang sering berserakan tak bertuan dan kehujanan di depan kelas. Ternyata, ia menjual buku-buku itu hanya untuk bisa membeli tabel unsur-unsur Kimia. Hfffffft...


Saat itu, mereka bisa melihat langsung sisi lain dunia mereka, bahwa masih sangat banyak orang yang harus berjuang untuk mendapatkan buku-buku sekolah, termasuk laki-laki itu. Ia harus mendapat tolakan-tolakan dan senyuman-senyuman sinis, menjual buku hanya demi membeli sebuah tabel “unsur-unsur Kimia”.


“Tabel unsur-unsur Kimiaku dimana ya? Kayaknya tak buat lap es teh kantin yang tumpah kemaren deh..!!”

“Punyaku tak lipet-lipet buat kipasan tadi malem…!”

“Oh tidak!!! Kejamnya kita..” seru mereka bersamaan.


Keduanya masih termenung sampai langkah itu hilang meninggalkan sebuah pelajaran berharga hari ini, seraya bergumam, “Akankah tabel unsur-unsur Kimia itu bisa ia gunakan untuk merubah peluh menjadi obat untuk memperbaiki dunia?”

Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu...

0 Comments:

Post a Comment



Template by:
Free Blog Templates