Kamis, 02 Desember 2010

Lihatlah, Aku Seorang Muslim

Seolah kupu-kupu yang bertebaran itu ingin ikut bersujud bersama mereka yang sedang khusyuk larut dalam pangkuan Rabnya. Mengepakkan sayap secara perlahan lalu berpindah dari bunga satu ke bunga lainnya. Indah sekali rasanya. Hanyut dalam kedamaian, lalu terdiam mendengar semilir lantunan adzan sang muadzin.

Aku tetap duduk di serambi masjid kampus. Panas sekali udara siang ini. Sambil menunggu beberapa teman yang masih mensucikan diri dengan wudhu, aku sengaja untuk mendengarkan indahnya “nyanyian” dari Tuhanku. Subhanallah..


Rupanya memori otakku sedikit berputar, mengingatkanku akan sebuah cerita tentang teman seperjuanganku sewaktu aku nyantri di salah satu pondok pesantren modern di kota Solo. Aku tersenyum mengingat semua pengakuannya saat itu.


“Aku beruntung mendapat hidayah ini” Katanya.


Teresia. Ia adalah sosok gadis remaja yang telah memberiku banyak inspirasi. Terlebih setelah aku membaca sebuah buku karya Salim A. Fillah, yang berjudul “Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim” terbitan Pro-U Media. Aku semakin tersindir, betapa besar dan kuat perjuangan sahabat-sahabat nabi dan orang-orang terdahulu yang gigih mempertahankan keimanannya sebagai seorang muslim walaupun harus menerima cambukan dan siksaan keji lainnya. Perjalanan hidup sahabatku, Teresia, pun tak akan pernah aku lupakan. Aku masih ingat bagaimana ia berkisah padaku sore itu, ketika kami duduk berdua di lapangan basket di pondok pesantren kami. Baiklah, sambil menunggu mereka mengambil air wudhu, akan kuceritakan sedikit tentang pelajaran berharga yang terus menerus menggelitik hatiku ini.

***


Kisah Teresia, 20 tahun.


Sejak kecil, aku telah dipersiapkan untuk mengikuti jejak kedua orang tuaku, sebagai tokoh dan pemuka agama Kristen di Bandung. Pendeta lebih tepatnya. Setiap hari aku mempelajari Injil, bergabung dalam kegiatan-kegiatan keagamaan, dan tak pernah absen untuk sembahyang ke Gereja. Aku dibesarkan dalam keluarga yang bisa dibilang serba tercukupi. Apapun yang kuinginkan bisa kudapat dengan sangat mudah. Dan satu yang sangat aku banggakan saat itu, kami adalah keluarga yang taat pada ajaran kepercayaan kami.


Sampai suatu hari, saat bundaku merapikan perpustakaan rumah, beliau mendapati selembar kertas yang menyatakan bahwa ternyata ayahku telah memeluk Islam. Aku dan bundaku marah, mengingat posisi mereka adalah sebagai tokoh penting dalam lingkungan kepercayaan kami.


Pertengkaran tak dapat dihindari. Aku hanya berperan sebagai penonton. Aku tak bisa berargumen, bingung, dan entahlah. Yang aku tau, setelah perselisihan itu ayahku memutuskan untuk mengasingkan diri di daerah Sumatra. Ya, itu lebih baik untuk kenyamanan beliau. Kami berpisah kurang lebih selama empat tahun.


Ternyata, selama empat tahun itu pula secara diam-diam bundaku memperlajari Al-Qur’anul Karim. Sedikit demi sedikit aku diajak untuk mendiskusikan dan mengkaji kitab suci yang telah mengubah pemikiran ayah. Mungkin beliau penasaran dan bertanya-tanya mengapa ayahku, sosok yang sangat taat itu, bisa meninggalkan kepercayaan yang telah ia anut dari kecil.


Subhanallah wal hamdulillah, pada tahun 1999 hidayah itu pun akhirnya datang pada bundaku, aku, dan kedua adikku yang saat itu masih kecil-kecil. Dengan menitikkan air mata, kami segera menghubungi ayah. Saat itu juga ayah pulang menemui kami. Satu hal yang tak bisa aku lupakan, kami berikrar dengan syahadat sebagai muslim.

Asyhadu an-la ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadarrasulullah..

“Lihatlah, aku seorang muslim.” Hatiku bergetar mendengar pengakuanku sendiri.


Ternyata tak semudah yang aku bayangkan. Beberapa hari setelah kami berikrar, kami harus meninggalkan rumah beserta semua fasilitas lengkap yang setiap hari kami dapatkan. Itulah konsekuensinya, karena semua itu kami dapat dari penghasilan orang tuaku sebagai pendeta. Saat berkunjung kerumah nenek, aku pun diusir. Ah, semakin berat rasanya. Ternyata kami juga dikucilkan. Tetapi sepertinya tak masalah untuk ayah dan bundaku. Dalam keadaan kekurangan seperti ini, mereka tetap mengembalikan semua gaji yang telah didapat sebagai pendeta.


Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan saja setelah mengatakan, “Kami telah beriman”, padahal mereka belum diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al ‘Ankabut 2-3)


Akhirnya, kami memutuskan untuk hijrah ke Jogjakarta karena pertimbangan disana biaya hidup relatif lebih murah. Rumah baru kami sangat berbeda. Bahkan sangat kecil untuk dihuni lima orang. Jika hujan turun, bisa dipastikan lantai kami adalah genangan air. Lalu saat itu juga ayah membuat semacam ayunan dari kain-kain untuk tempat tidur kami. Untuk menambah penghasilan, ayah mengumpulkan koran-koran bekas, menggunting artikel-artikel penting yang kemudian dijadikan kumpulan kliping untuk dijual. Kami makan dengan nasi dan lauk seadanya. Alhamdulillah, dengan itu semua kami juga mulai belajar menjalankan puasa.


Bujuk rayu baik dari pihak keluarga ayah maupun keluarga bunda datang silih berganti. Aku diajak untuk kembali pada kepercayaan yang telah aku tinggalkan. Mereka mengingatkan akan semua fasilitas yang bisa aku dapat jika aku mengikuti mereka. Mulai dari rumah, belajar di sekolah milik keluarga, beasiswa keagaman untuk kuliah di Jerman beserta fasilitas lainnya. Aku sempat berfikir ulang. Rupanya hatiku masih rapuh, belum sekuat kedua orang tuaku yang selalu menghibur dan menguatkanku untuk bertahan.


Aku dan adikku belajar di sekolah yang tak jauh dari rumah. Sebenarnya aku ingin masuk di sekolah Islam favorit agar aku bisa belajar banyak tentang agama. Aku ingin menguatkan hati. Tetapi, melihat keadaan kami yang seadanya itu, membuatku bisa menerima. Aku hanya bisa berangan-angan dari luar, karena setiap pagi aku mengayuh sepeda melewati sekolah yang aku inginkan tersebut.


Ayah pernah membacakan salah satu arti dari ayat Al-Quran, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku ini dekat. Aku menjawab permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaku (Al-Baqarah: 186)”


Aku semakin mantap dengan keputusan untuk memeluk Islam. Karena beberapa hari kemudian, ketika aku sedang duduk berdua dengan adikku di taman kota, tiba-tiba seorang laki-laki separuh baya menghampiri kami. Setelah berbincang-bincang, beliau menawari beasiswa untuk belajar di salah satu sekolah Islam favorit di Jogjakarta. Aku mulai belajar sholat dengan benar, membaca Al-Quran, dan ajaran-ajaran Islam yang sama sekali belum ku ketahui. Sekarang aku merasa hidupku damai. Bahkan sangat damai. Kehidupan ekonomi kami mulai membaik setelah ayah diterima sebagai dosen di salah satu universitas swasta di Jogjakarta. Kami memutuskan untuk mencari rumah yang lebih layak. Tapi ternyata kami dihadapkan oleh berbagai masalah yang agak membahayakan.


Saat itu, ayah sedang bertugas di Jakarta. Aku dan bundaku sedang berada di dapur ketika pintu depan tiba-tiba diketuk oleh delapan laki-laki asing.


“Permisi” Sapa salah satu laki-laki yang berdiri tegap di depan rumah.


Awalnya mereka mengaku sebagai teman-teman ayah yang ingin menjemput untuk pergi ke Jakarta. Tetapi kami merasa aneh, karena ayah sudah berada di Jakarta selama empat hari.


Rupanya kecurigaan kami terbukti bahwa mereka datang bukan dengan niat baik. Saat itu juga aku mengambil botol-botol kaca di dapur setelah menyadari bahwa mereka bersenjata. Ternyata orang-orang itu adalah teman-teman ayah, dulu sebelum kami memeluk Islam. Entahlah, hanya satu yang aku tau saat itu, mereka menginginkan kami untuk kembali. Bundaku menyembunyikan kedua adikku. Tapi tanpa sepengetahuanku, adikku yang paling besar berdiri di belakangku lengkap dengan memakai helm dan tongkat kayu seperti ingin berperang. Ah, sebenarnya aku ingin tertawa melihat tingkahnya.


Kami keluar. Dengan suara lantang, bundaku meminta agar mereka pergi kerena ayah sedang tidak ada di rumah. Tapi mereka tak percaya dan menuduh kami menyembunyikan ayah. Tanpa berpikir panjang, aku lempar botol-botol itu. Adikku mengikuti dari belakang dengan menggunakan tongkatnya. Beberapa dari mereka berteriak ingin menghentikan kami. Alhamdulillah, tak lama kemudian polisi pun datang.


Tak hanya satu kali kami merasa dicari orang-orang seperti itu. Maka kami memutuskan untuk mencari tempat tinggal yang lebih aman, di daerah Bantul Jogjakarta. Cobaan pun kembali kami hadapi karena daerah yang kami tempati sering terkena gempa bumi. Beberapa warga ada yang mengungsi dirumah kami karena kebetulan kerusakannya tak begitu parah. Dari situlah aku menyadari bahwa semua kejadian pasti ada hikmahnya. Aku menjadi punya kesempatan untuk mengamalkan ajaran Islam untuk saling tolong menolong.


Tak hanya sampai disitu saja perjalananku bersama ayah, bunda, dan kedua adikku. Kami sempat pindah rumah lagi karena ternyata masih ada pihak-pihak yang melacak keberadaan kami.


Aku pun ikut dalam beberapa kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan. Aku mulai menemukan saudara-saudara baru. Sampai aku bisa melanjutkan jenjang SMA di salah satu Pondok Pesantren di Solo. Setelah itu aku bertekat untuk memperdalam Islam disana, sebagai salah satu guru pendamping bagi para santriwati. Bismillahirrahmanirrahim, walaupun aku seorang muallaf, aku berupaya untuk mempunyai semangat dan mental seorang muslim sejati.



Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html

;;

Template by:
Free Blog Templates